Monday, April 17, 2017

Mengenal Skala Richter dan Akibat Yang Ditimbulkan

Gempa merupakan bencana alam yang cukup sering terjadi di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia terletak di 3 lempeng dunia, yaitu lempeng eurasia, lempeng indo-australia, dan lempeng pasifik. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak gunung api yang masih aktif. Dalam mengukur kekuatan gempa digunakan beberapa skala, yang mana salah satunya adalah skala richter. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai skala richter.

A.Sejarah Singkat Skala Richter
Skala Richter dikembangkan oleh seorang seismolog dan fisikawan asal Amerika pada tahun 1935 yang bernama Charles Francis Richter. Tujuannya adalah agar dapat mengukur dan membandingkan kekuatan serta intensitas gempa secara matematis. Pada awalnya, skala richter ini hanya digunakan untuk mengukur gempa yang ada di daerah California selatan saja, namun kemudian banyak diadopsi untuk mengukur gempa ditempat-tempat lainnya.

B.Magnitudo Gempa dan Dampaknya
Berikut ini adalah daftar magnitudo gempa dengan menggunakan teknik richter dan dampak yang ditimbulkannya :


Skala Richter
Dampak
< 2.0
Gempa sangat kecil dan tidak terasa oleh manusia
2.0-2.9
Gempa kecil yang tidak terasa, namun terekam oleh alat
3.0-3.9
Gempa kecil yang terasa oleh manusia, namun tidak menimbulkan kerusakan berarti
4.0-4.9
Gempa ringan, dapat dirasakan dan dapat merusak benda. Dapat diketahui dengan bergetarnya benda dalam ruangan serta dapat direkam oleh seismograf
5.0-5.9
Gempa sedang, dapat menimbulkan kerusakan bangunan yang besar tergantung dari bahan dan material bangunan
6.0-6.9
Gempa kuat, dapat menimbulkan kerusakan di area sejauh 160 km. Mengakibatkan kerugian materil yang besar dan menimbulkan korban jiwa
7.0-7.9
Gempa besar, mengakibatkan kerugian ekonomi yang berjumlah besar dan menimbulkan banyak korban jiwa
8.0-8.9
Gempa sangat besar, menimbulkan kerugian material yang sangat besar dan sangat banyak korban jiwa
9.0-9.9
Gempa sangat besar yang dapat menghancurkan area ribuan mil
10.0-10.9
Gempa yang dapat menghancurkan sebuah benua
11.0-11.9
Gempa yang dapat dirasakan di setengah sisi bumi. Hanya disebabkan oleh tabrakan meteorit yang biasanya diikuti suara gemuruh. Contoh tabrakan meteorit di teluk chesepeak
12.0-12.9
Gempa yang dapat dirasakan di seluruh dunia. Hanya terekam sekali (sampai saat ini), yaitu tumbukan meteorit di semenanju Yucatan 65 juta tahun yang lalu yang membentuk kawah chixulub
≥13.0
Tidak pernah tercatat

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Skala Richter dan akibat yang ditimbulkan. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai kekuatan gempa. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi :
1. Wardiyatmoko,K. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Richter

Sunday, April 16, 2017

Tipe-Tipe Gunung Api

Gunung api merupakan salah satu kenampakan alam yang indah dan menawan untuk dikunjungi. Kita dapat melihat kawah yang panas terdapat pada gunung api dan menikmati pemandangan indah dari atas gunung. Tidak semua gunung api sama, ada yang memiliki bentuk dan letusan yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan mengenai tipe-tipe gunung api

Tipe-Tipe Gunung Api

A.Tipe-Tipe Gunung Api Berdasarkan Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, gunung api dapat dibedakan menjadi 3, yaitu gunung api maar, gunung api kerucut (strato), dan gunung api perisai. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga bentuk gunung api tersebut :

1.Gunung Api Maar

Gunung Lemongan
Gunung api maar memiliki bentuk seperti danau kecil. Gunung api ini terjadi hanya dikarenakan oleh letusan. Bahan dari gunung api bentuk ini terdiri dari eflata. Contoh gunung api tipe maar di Indonesia adalah gunung Lemongan di Jawa Timur

2.Gunung Api Kerucut (strato) 

Gunung Kerinci
Sesuai dengan namanya, gunung api ini memiliki bentuk seperti kerucut. Gunung api tipe ini dapat terjadi akibat dari adanya letusan dan lelehan (efusif) secara bergantian. Bahannya berlapis-lapis, sehingga disebut lava gunung api strato. Pada umumnya gunung api di Indonesia berjenis strato.

3.Gunung Api Perisai

Gunung Mauna Loa
Bentuk gunung api ini adalah seperti perisai. Bentuk dari gunung api ini dapat terjadi akibat dari adanya lelehan ataupun cairan yang keluar dan membentuk lereng yang sangat landai. Gunung api ini memiliki lava yang sangat cair dan memiliki sudut kemiringan lereng gunung antara 1-10 derajat. Contoh daripada gunung api tipe perisai adalah gunung Mauna Loa dan gunung Kilauea di Hawai

B.Tipe-Tipe Gunung Api Berdasarkan Aktivitasnya
Berdasarkan aktivitasnya, gunung api dapat dibedakan menjadi 3, yaitu gunung aktif, gunung mati, dan gunung istirahat. Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga aktivitas gunung api tersebut :

1.Gunung Aktif
Merupakan gunung api yang masih bekerja dan kawahnya selalu mengeluarkan asap. Karena aktivitas vulkaniknya, maka pada gunung api tipe ini sering terjadi gempa dan letusan. Contohnya adalah Gunung Stromboli di Italia

2.Gunung Mati
Merupakan gunung api yang tidak pernah meletus atau menunjukkan aktivitas vulkanik sama sekali. Pada gunung api ini tidak terdapat gempa dan letusan yang membahayakan masyarakat sekitar. Contohnya adalah gunung Patuha di Jawa Barat dan Gunung Sumbing di Jawa Timur

3.Gunung Istirahat
Merupakan gunung api yang jarang meletus. Gunung api ini dapat sewaktu-waktu meletus dan kemudian beristirahat kembali. Sebagai contoh adalah gunung Kelud di Jawa Timur.

C.Tipe-Tipe Gunung Api Berdasarkan Letusannya
Berdasarkan tipe letusannya, gunung api dapat dibedakan menjadi 8 tipe letusan yang berbeda. Berikut adalah penjelasan mengenai kedelapan tipe letusan tersebut :

  1. Tipe Hawaii : Gunung api tipe ini memiliki lava yang sangat cair, tekanan gas yang rendah, dan dapur magma yang sangat dangkal. Contohnya adalah gunung Maona Loa di Hawaii
  2. Tipe Stromboli : Gunung api tipe ini memiliki lava yang sangat cair, tekanan gas yang sedang, dan dapur magma yang dangkal. Mengeluarkan lava dan bom sekitar 5 menit sekali. Contohnya adalah gunung Raung di Jawa Timur
  3. Tipe Perret : Gunung api tipe ini memiliki lava yang cair, tekanan gas yang sangat tinggi, dan dapur magma yang sangat dalam. Jika gunung ini erupsi maka material yang dikeluarkan dapat mencapai 80km terlempar ke udara. Contohnya adalah gunung Krakatau
  4. Tipe Vulkano Lemah : Gunung api tipe ini memiliki lava yang cair, tekanan gas yang sedang, dan dapur magma yang dangkal. Pada umumnya vulkano lemah hanya mengeluarkan asap abu. Contohnya adalah gunung Bromo dan gunung Semeru.
  5. Tipe Vulkano Kuat : Gunung api tipe ini memiliki lava yang cair, tekanan gas yang sangat tinggi, dan dapur magma yang dalam. Gunung ini akan membuat semburan hujan abu yang tinggi. Contohnya adalah gunung Etna
  6. Tipe Merapi : Gunung tipe ini memiliki lava yang kurang cair, tekanan gas yang rendah, dan dapur magma yang sangat dangkal. Lava yang kurang cair tadi akan mengalir dan membentuk sumbat kawah. Jika tekanan gas besar, sumber kawah sumbat kawah tersebut akan terangkat dan jatuh kelereng sebagai ladu dan terjadi pula awan panas. Contohnya adalah gunung Merapi
  7. Tipe St. Vincent : Gunung tipe ini memiliki lava yang kurang cair, tekanan gas yang sedang, dan dapur magma yang dangkal. Memiliki danau kawah yang akan menghasilkan lahar pada saat meletus. Contohnya adalag gunung St. Vincent dan gunung Kelud
  8. Tipe Pelee : Gunung tipe ini memiliki lava yang kurang cair, tekanan gas yang sangat tinggi, dan dapur magma yang dalam. Gunung tipe ini memiliki sumbat kawah dan dapat memancarkan awan panas dengan kecepatan 150m/detik. Contohnya adalah gunung Pelee di Pulau Martinique

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Tipe-Tipe Gunung Api. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai gunung api. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Friday, April 14, 2017

Klasifikasi Iklim Köppen

Klasifikasi iklim Köppen di dunia
Salah satu sistem klasifikasi iklim yang paling banyak digunakan secara luas adalah sistem klasifikasi iklim yang dibuat oleh seorang ahli iklim berkebangsaan Jerman yang bernama Wladimir Köppen. Wladimir Köppen membuat pembagian daerah iklim berdasarakan kondisi temperatur dan curah hujan. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai klasifikasi iklim Köppen.

Klasifikasi Iklim Köppen

Berdasarkan temperatur dan curah hujan, wilayah di permukaan bumi dapat dibagi menjadi beberapa daerah iklim. Köppen menggunakan simbol huruf besar dan kecil untuk mengidentifikasi daerah iklim. Berikut ini adalah simbol dari iklim utama yang digunakan oleh Köppen :

1.Iklim A
Iklim A atau iklim tropis. Iklim ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Temperatur normal paling rendah 18°C
  2. Suhu rata-rata tahunan berkisar 20-25°C
  3. Curah hujan rata-rata tahunan lebih dari 60cm/tahun

Contoh negara yang berada dalam wilayah iklim A adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Meksiko.

2.Iklim B
Iklim B atau iklim kering (gersang dan semigersang). Iklim ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Temperatur normal dari bulan-bulan yang terdingin antara 3-18°C
  2. Terdapat di daerah gurun atau stepa

Contoh kota yang berada dalam wilayah iklim B adalah :

  1. Yuma, Arizona
  2. Almeria, Spanyol
  3. Cobar, New South Wales, Australia


3.Iklim C
Iklim C atau iklim subtropis lembab. Iklim ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Temperatur bulan terdingin dibawah 3°C

Contoh kota yang berada dalam wilayah iklim C adalah :

  1. New York City, New York
  2. Buenos Aires, Argentina
  3. Sydney, Australia

4.Iklim D
Iklim D atau iklim sedang. Iklim ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Temperatur bulan terpanas diatas 0°C

Contoh kota yang berada dalam wilayah iklim D adalah :

  1. Seoul, Korea Selatan
  2. Stockholm, Swedia
  3. Ankara, Turki

5.Iklim E
Iklim E atau iklim kutub. Iklim ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Temperatur bulan terpanas dibawah 10°C

Contoh kota yang berada dalam wilayah iklim E adalah :

  1. Provideniya, Russia
  2. Deception Island, Antartika
  3. Iqaluit, Kanada

Selain iklim utama, Köppen melakukan pembagian subdivisi dari kelima iklim utama tadi. Pembagian subdivisi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. f. : Selalu basah, terdapat hujan pada semua musim
  2. s. : Bulan-bulan kering terjadi pada musim panas
  3. w. : Bulan-bulan kering terjadi pada musim dingin
  4. m. : Bentuk peralihan, hujan cukup untuk membentuk hutan dan musim keringnya pendek

Berikut ini adalah lima kelompok iklim yang dibagi oleh Köppen :

1.Iklim A, yaitu iklim khatulistiwa/tropis yang terdiri atas :

  1. Af : Iklim hutan hujan tropis
  2. As : Iklim sabana dengan musim panas kering
  3. Aw : Iklim sabana dengan musim dingin kering
  4. Am : Iklim antaranya dengan musim kering sebentar

2.Iklim B, yaitu iklim gersang atau semigersang yang terdiri atas :

  1. Bs : Iklim stepa
  2. Bw : Iklim gurun

3.Iklim C, yaitu iklim subtropis lembab yang terdiri atas :

  1. Cf : Iklim subtropis lembab tanpa musim kering
  2. Cw : Iklim subtropis lembab dengan musim dingin yang kering
  3. Cs : Iklim mediterania dengan musim panas yang kering

4.Iklim D, yaitu iklim sedang kontinental yang terdiri atas :

  1. Df : Iklim sedang kontinental yang lembab
  2. Dw : Iklim sedang kontinental dengan musim dingin yang kering

5.Iklim E, yaitu iklim kutub yang terdiri atas :

  1. Et : Iklim tundra
  2. Ef : Iklim daerah es abadi

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Klasifikasi Iklim Köppen. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai pembagian iklim. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi : 
1. Wardiyatmoko, K. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_iklim_K%C3%B6ppen

Thursday, April 13, 2017

Macam-Macam Pola Aliran Sungai

Sungai dengan pola aliran dendritik
Sebuah sungai dan cabangnya dapat membentuk suatu pola aliran. Terdapat beberapa macam pola aliran sungai yang kita kenal, antara lain : paralel, rektangular, angular, radial sentrifugal, radial sentripetal, trelis, anular, dan dendritik. Berikut ini adalah penjelasan mengenai macam-macam pola aliran sungai tersebut

Pola Aliran Sungai

1.Paralel


Paralel adalah pola aliran sungai yang terdapat pada suatu daerah yang luas dan sangat miring, sehingga gradien sungai besar dapat mengalir ke tempat terendah dengan arah yang hampir lurus. Pola ini terbentuk di daratan pantai yang masih muda dengan lereng asli yang sangat miring ke arah laut.

2.Rektangular


Rektangular adalah pola aliran sungai yang terdapat pada daerah yang memiliki struktur patahan, baik berupa patahan sesungguhnya ataupun retakan (joint). Pola aliran ini membentuk sudut siku-siku.

3.Angular
Angular adalah pola aliran sungai yang membentuk lebih besar atau lebih kecil dari 90 derajat. Pada pola ini terlihat bahwa sungai masih mengikuti garis-garis patahan.

4.Radial Sentrifugal

Radial Sentrifugal (kanan), Radial Sentripetal (kiri)

Radial Sentrifugal adalah pola aliran sungai yang ada pada kerucut gunung berapi atau dome yang baru mencapai stadium muda dan arah alirannya menuruni lereng.

5.Radial Sentripetal
Radial Sentripetal adalah pola aliran yang terdapat pada kawah atau kaldera gunung berapi ataupun depresi lainnya. Arah alirannya menuju ke pusat depresi.

6.Trelis


Trelis adalah pola aliran sungai yang berbentuk seperti terali atau jeruji. Pada pola ini, sungai mengalir sepanjang lembah dari suatu bentukan antiklin dan sinklin yang paralel.

7.Anular
Anular adalah pola aliran sungai yang merupakan variasi dari pola aliran radial. Pola ini terdapat pada dome atau kaldera stadium dewasa serta terdapat sungai konsekuen, subsekuen, resekuen, dan obesekuen.

8.Dendritik


Dendritik adalah pola aliran sungai yang berbentuk seperti cabang atau akar tanaman. Pola aliran ini terdapat pada daerah berjenis batuan homogen, dan lereng-lerengnya tidak begitu terjal, sehingga sungai-sungainya tidak cukup kuat untuk menempuh jalur yang lurus dan pendek.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Macam-Macam Pola Aliran Sungai. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai sungai. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi :
Wardiyatmoko, K. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga 

Wednesday, April 12, 2017

Bentuk-Bentuk atau Tipe Sungai

Sungai adalah air tawar yang berasal dari dataran tinggi dan bermuara di laut, danau, atau sungai lainnya yang lebih besar. Tidak semua sungai yang ada di bumi ini memiliki bentuk yang sama. Ada berbagai macam bentuk sungai yang terdapat di bumi ini. Berikut adalah penjelasan mengenai bentuk-bentuk sungai.

Bentuk-Bentuk (Tipe) Sungai

Berikut ini adalah bentuk-bentuk sungai yang ada di bumi :

  1. Sungai Konsekuen Lateral : Merupakan sungai yang arah alirannya menuruni lereng-lereng asli yang ada di permukaan bumi seperti dome, block mountain, atau dataran yang baru terangkat.
  2. Sungai Konsekuen Longitudinal : Merupakan sungai yang alirannya sejajar dengan antiklinal (bagian puncak pegunungan)
  3. Sungai Subsekuen : Merupakan sungai yang terjadi jika sebuah sungai konsekuen lateral mengalami erosi mundur yang akhirnya akan sampai ke puncak lerengnya. Sungai tersebut akan melakukan erosi ke samping dan memperluas lembahnya. Akibatnya timbul aliran baru yang mengikuti areh strike (arah patahan)
  4. Sungai Superimposed : Merupakan sungai yang mengalir pada lapisan sedimen datar yang menutupi lapisan batuan di bawahnya. Apabila terjadi peremajaan, sungai tersebut dapat mengikis lapisan-lapisan penutup dan mendorong formasi batuan yang semula tertutup. Akibatnya, aliran sungai ini tidak sesuai dengan struktur batuan.
  5. Sungai Anteseden : Merupakan sungai yang arah alirannya tetap karena dapat mengimbangin pengangkatan yang terjadi. Sungai jenis ini hanya dapat terjadi bila pengangkatan berjalan dengan lambat
  6. Sungai Resekuen : Merupakan sungai yang mengalir menuruni dip slope (kemiringan patahan) dari formasi-formasi geologis di suatu daerah dan searah dengan sungai konsekuen lateral. Sungai jenis ini terjadi lebih akhir sehingga lebih muda dan sering merupakan anak sungai subsekuen
  7. Sungai Obsekuen : Merupakan sungai yang mengalir menuruni permukaan patahan, berlawanan dengan dip dari formasi-formasi patahan.
  8. Sungai Insekuen : Merupakan sungai yang terjadi tanpa ditentukan oleh sebab-sebab yang nyata. Sungai ini tidak mengalir mengikuti arah lapisan batuan atau dip. Sungai ini mengalir dengan areh tak tentu sehingga terjadi pola aliran dendritik
  9. Sungai Reverse : Merupakan sungai yang tidak dapat mempertahankan arah alirannya melawan suatu pengangkatan sehingga arah alirannya berubah untuk menyesuaikan diri.
  10. Sungai Komposit : Merupakan sungai yang mengalir melewati daerah-daerah yang berlainan struktur geologinya. Kebanyakan sungai besar merupakan sungai komposit.
  11. Sungai Anaklinal : Merupakan sungai yang mengalir pada permukaan, yang terangkat secara lambat dan arah pengangkatan tersebut berlawanan dengan arah arus sungai.
  12. Sungai Compound : Merupakan sungai yang mengalir dari daerah yang berlawanan struktur geomorfologinya

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Bentuk-Bentuk Sungai. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai sungai. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan juga artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi : 
Wardiyatmoko, K. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga

Tuesday, April 11, 2017

Letak Indonesia (Astronomis, Geografis, dan Geologis)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah terbesar di dunia dan pulau terbanyak di dunia. Selain wilayahnya yang luas, Indonesia juga terletak di posisi yang strategis. Letak Indonesia dapat dilihat dari tiga segi yang berbeda, yaitu Astronomis, Geografis, dan Geologis. Berikut ini adalah letak dari negara Indonesia berdasarkan ketiga segi tersebut.

A.Letak Astronomis Indonesia
Berdasarkan kedudukan garis lintang dan garis bujur, Indonesia terletak di 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT. Hal ini menandakan bahwa Indonesia terletak di bagian timur bumi dan daerah khatulistiwa. Dengan letak astronomis tersebut, maka Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis yang artinya hanya terdapat dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Berikut adalah ujung dari setiap wilayah Indonesia :

  1. Indonesia paling utara terletak di pulau We (6° LU)
  2. Indonesia paling selatan terletak di pulau Rote (11° LS)
  3. Indonesia paling timur terletak di kota Merauke (141° BT)
  4. Indonesia paling barat terletak di kota Sabang (95° BT)

Letak Astronomis ini membuat Indonesia memiliki 3 daerah waktu, dimana tiap zona waktu memiliki perbedaan 1 jam. Maka dari itu, di Indonesia terdapat wilayah Waktu Indonesia Barat (GMT+7), Waktu Indonesia Tengah (GMT+8), dan Waktu Indonesia Timur (GMT+9).

B.Letak Geografis Indonesia
Letak Geografis berarti letak suatu wilayah yang dikaitkan dengan wilayah lainnya di muka bumi. Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Dua samudera, yaitu samudera Hindia dan samudera Pasifik. Letak tersebut berarti bahwa Indonesia terletak pada posisi silang, dimana terdapat jalur transportasi perdagangan yang ramai dan menguntungkan Indonesia. Jalur perdagangan ramai ini, membuat Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa.

C.Letak Geologis Indonesia
Letak Geologis berarti letak suatu wilayah dilihat dari jenis batuan yang ada di muka bumi. Secara Geologis, Indonesia terletak di :

a.3 Lempeng Utama Dunia

  1. Lempeng Eurasia
  2. Lempeng Indo-Australia
  3. Lempeng Pasifik

b.2 Jalur Pegunungan

  1. Sirkum Mediterania (Sumatera, Jawa, Bali, Flores, Sumbawa, Alor)
  2. Sirkum Pasifik (Papua, Sulawesi, Halmahera, Kalimantan)

c. 3 Daerah

  1. Daerah Sunda Plate/Dangkalan Sunda : Merupakan perluasan benua Asia di bagian selatan yang tenggelam. Terdiri dari pulau besar di Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
  2. Daerah Sahul Plate/Dangkalan Sahul : Merupakan daerah benua Australia yang tenggelam di bagian utara. Terdiri dari pulau besar di bagian timur, yaitu Papua dan sebagian Maluku
  3. Daerah peralihan/Daerah Wallace : Merupakan daerah peralihan antara benua Asia dan benua Australia. Terdiri dari pulau-pulau di daerah peralihan seperti Sulawesi

Berdasarkan keadaan Geologisnya, maka Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak gunung api karena dilalui dua jalur pegunungan, dan memiliki potensi gempa bumi yang besar karena terletak diantara tiga lempeng. Namun, juga terdapat keuntungan dari letak tersebut, yaitu Indonesia memiliki banyak tambang mineral.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Letak Indonesia (Astronomis, Geografis, dan Geologis). Semoga dengan adanya artikel ini, dapat memberi informasi kepada pembaca mengenai letak daripada negara Indonesia. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi :
Diolah dari berbagai sumber 

Monday, April 10, 2017

Pengertian dan Jenis-Jenis Bencana Alam

Bencana alam merupakan salah satu hal yang tidak dapat terlepas dari kehidupan yang ada di bumi. Setiap hari pasti terjadi suatu bencana alam di bumi kita ini. Bencana alam dapat menimbulkan banyak kerugian bagi manusia ketika terjadi.

Di era modern ini, manusia sudah dapat memprediksi kapan terjadinya bencana alam, namun tetap saja manusia sulit untuk mencegahnya terutama bencana alam yang tidak dapat dicegah oleh manusia seperti gempa bumi atau gunung meletus. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pengertian dan jenis-jenis bencana alam

A.Pengertian Bencana Alam
Sebelum lebih jauh mengetahui apa pengertian dari bencana alam, terlebih dahulu kita mengetahui apa pengertian dari bencana. Berikut ini adalah beberapa pengertian bencana :

  1. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 : Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya

Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, mengelompokkan bencana menjadi 3 yaitu bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Sehingga, bencana alam dapat diartikan sebagai peristiwa yang menggangu kehidupan manusia diakibatkan oleh fenomena alam.

B.Jenis-Jenis Bencana Alam
Berdasarkan penyebabnya, bencana alam dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

1.Bencana Alam Akibat Dinamika Litosfer 
Litosfer adalah kulit terluar dari planet berbatu. Bencana alam yang dapat disebabkan oleh dinamika litosfer adalah :

a.Letusan Gunung Api


Bencana alam ini berhubungan dengan gunung api yang meletus. Bencana akibat letusan gunung api ini dapat berasal dari lontaran material piroklastik, awan panas, aliran lava, gas beracun, abu vulkanik, hingga aliran lahar. Material dari gunung api bersifat merusak karena bersuhu tinggi, bermassa besar, dan mengandung senyawa kimia berbahaya bagi mahluk hidup.

Letusan Gunung Api sangat berbahaya terutama bagi mereka yang tinggal disekitar kawasan gunung api. Namun, jika posisinya cukup jauh, letusan gunung api hanya sedikit membahayakan kecuali dalam beberapa kasus letusan gunung api besar seperti letusan gunung krakatau (1883). Beberapa contoh gunung api yang masih aktif : Tangkuban Perahu, Merapi, Bromo, Krakatau, dll.

b.Tanah Longsor


Tanah longsor adalah pergerakan tanah atau massa batuan yang menuruni lereng atau tebing. Tanah longsor dapat dipicu oleh beberapa hal seperti curah hujan yang tinggi, gempa bumi, ataupun letusan gunung berapi. Tanah longsor sering terjadi tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi. Tanah longsor sangat merugikan baik dari segi korban jiwa maupun kerusakan harta bendan.

c.Gempa Bumi

Dampak gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran yang terjadi akibat dari adanya pergeseran lempeng tektonik atau aktivitas vulkanik. Gempa bumi akibat pergeseran lempeng disebut sebagai gempa bumi tektonik, sedangkan gempa bumi akibat aktivitas vulkanik disebut sebagai gempa bumi vulkanik. Jika gempa yang terjadi cukup besar, maka akan menimbulkan banyak kerugian seperti kerusakan bangunan, retakan tanah, kerusakan jaringan pipa air;listrik;dan gas, serta kerusakan jaringan telekomunikasi. Jika gempa bumi terjadi didasar laut, maka dapat menimbulkan bencana alam yang lebih mematikan, yaitu Tsunami.

2.Bencana Alam Akibat Dinamika Atmosfer
Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet. Bencana alam yang dapat disebabkan oleh dinamika atmosfer adalah :

a.Badai Tropis
Badai tropis atau siklon tropis adalah sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala luas, tumbuh diatas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif, memiliki kecepatan angin maksimum 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam. Dampak siklon tropis dapat berupa angin kencang, hujan deras selama berjam-jam hingga berhari-hari, banjir, gelombang tinggi, dan gelombang badai.

b.Tornado


Tornado adalah pusaran udara yang bergerak sangat cepat dan berbentuk corong spiral. Di Indonesia, jarang terjadi bencana alam Tornado. Kecepatan tornado berkisar antara 72 Km/jam - 400 Km/jam. Tornado dapat menyebabkan korban jiwa dan kerusakan harta benda.

c.Kekeringan
Kekeringan adalah peristiwa dimana ketersediaan air yang ada jauh dibawah kebutuhan air yang diperlukan untuk hidup. Kekeringan dapat terjadi akibat beberapa hal, yaitu kurangnya curah hujan, rendahnya pasokan air permukaan, berkurangnya persediaan air tanah, konsumsi yang berlebihan, dan kerusakan sumber-sumber air. Kekeringan cukup sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan berbagai dampak seperti gagal panen, kelaparan, kebakaran hutan, kerusakan tanah, wabah penyakit, hingga punahnya hewan dan tumbuhan.

d.Kebakaran Hutan


Kebakaran Hutan merupakan peristiwa terbakarnya hutan, baik akibat proses alam ataupun akibat adanya aktivitas manusia. Kebakaran hutan umumnya terjadi pada musim kemarau ketika cuaca sedang panas yang disebabkan oleh sambaran petir, gas metana yang keluar dari singkapan batu bara pada lahan gambut, dan lava pijar dari letusan gunung berapi. Namun, kebakaran hutan dapat disebabkan oleh aktivitas manusia, yaitu pembukaan lahan. Dampak dari kerusakan hutan antara lain adalah polusi udara, infeksi saluran pernapasan, iritasi pada mata, dll.

3.Bencana Alam Akibat Dinamika Hidrosfer
Hidrosfer adalah lapisan air yang ada dipermukaan bumi. Bencana alam yang dapat disebabkan akibat dinamika hidrosfer adalah :

a.Tsunami

Kondisi setelah Tsunami Aceh tahun 2004
Tsunami adalah gelombang besar yang mengarah ke daratan akibat dari adanya gempa bumi didasar laut. Tsunami sangat berbahaya dan merugikan, mulai dari korban jiwa hingga kerusakan harta benda. Salah satu contoh tsunami parah yang terjadi di Indonesia adalah tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.

b.Banjir


Banjir adalah peristiwa air yang menggenangi daratan akibat dari luapnya air yang ada disungai. Banjir akan terjadi ketika daya tampung sungai tidak sanggup untuk menampung volume air yang ada. Banjir dapat melumpuhkan kegiatan ekonomi karena jalur transportasi terputus, korban jiwa, dan kerusakan harta benda.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Bencana Alam. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai bencana alam. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya 😀

Referensi :
1. Wardiyatmoko, K. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga
2. http://kbbi.web.id/bencana
3. id.wikipedia.org